Social Dynamics: The Desire to Feel Safe, Accepted, and Above Others
Belakangan
ini aku sering memperhatikan sesuatu yang menarik dalam masyarakat, di mana ada
orang-orang dalam suatu kelompok sosial atau mereka yang dianggap sebagai sosok
besar dan memiliki pengaruh lebih tinggi dibanding yang lain secara halus
membentuk opini, membangun persepsi, dan mengarahkan cara pandang orang lain. Perlahan, hal tersebut dapat menciptakan
kerusakan sosial secara bertahap, dimulai dari hal-hal kecil hingga akhirnya
berdampak besar.
Mungkin perilaku seperti itu sudah menjadi kebiasaan yang mereka lakukan
sejak lama. Tanpa disadari, pola pikir dan cara hidup mereka mampu memengaruhi
kehidupan orang lain di sekitarnya. Ironisnya, mereka sering kali merupakan
orang-orang dewasa dengan kedudukan sosial yang baik di mata masyarakat serta
profesi yang dianggap unggul atau terpandang.
Di sisi lain, orang-orang dari kalangan bawah yang bergaul dekat dengan
mereka sering kali tidak menyadari bahwa cara berpikir mereka sedang diarahkan
atau dipengaruhi. Akibatnya, konflik dapat terjadi tanpa harus
melibatkan orang-orang berpengaruh tersebut secara langsung.
Makanya, terkadang ketika kita menyaksikan sebuah keributan, orang-orang
yang terlihat bermasalah biasanya justru berasal dari pihak yang sudah lebih
dulu dicap buruk oleh lingkungan sekitar. Padahal kenyataannya, kita tidak
pernah benar-benar tahu. Bisa saja penyulut utama dari konflik tersebut justru
adalah orang-orang yang selama ini dikenal sangat baik dan memiliki citra
positif di mata masyarakat.
Fenomena seperti ini sering kali muncul dalam bentuk yang sangat halus.
Tidak selalu berupa pertengkaran besar atau permusuhan yang terlihat jelas di
permukaan. Kadang, semuanya dimulai dari percakapan kecil, komentar singkat,
sindiran, atau cerita yang disampaikan dari satu orang ke orang lain. Dari
situlah opini perlahan terbentuk, lalu berkembang menjadi persepsi bersama.
Yang menarik sekaligus mengherankan, konflik yang terjadi sering kali dianggap bukan
berasal dari orang-orang yang memiliki pengaruh besar tersebut secara langsung.
Mereka justru cenderung berada di posisi paling aman: terlihat tenang, bijak,
bahkan seolah tidak terlibat apa pun. Padahal, dalam beberapa keadaan,
merekalah yang sejak awal membentuk arah emosi dan cara pandang lingkungan
terhadap seseorang.
Pada akhirnya, hubungan antarindividu bisa rusak karena cerita, asumsi, dan
penilaian yang terus diputar dari satu pihak ke pihak lainnya. Seseorang yang
awalnya tidak memiliki masalah apa pun dapat berubah menjadi tidak menyukai
orang lain hanya karena terus-menerus menerima sudut pandang tertentu.
Anehnya lagi, ketika konflik mulai membesar, pihak yang sejak awal
membentuk persepsi itu justru sering mengambil posisi sebagai penonton. Mereka
menyaksikan keretakan hubungan yang terjadi sambil melempar sindiran-sindiran
kecil yang seolah membenarkan keadaan, seperti mengatakan bahwa seseorang itu memang
terlalu lancang, terlalu merasa benar, atau memang pantas dijauhi. Padahal,
jika ditarik ke awal, emosi dan ketegangan itu tumbuh dari narasi yang mereka
bangun sendiri, istilah memercik bensin.
Hal yang lebih mengherankan adalah semua ini juga dilakukan oleh
orang-orang yang sebenarnya memiliki kecerdasan, kedudukan sosial, pengalaman
hidup, bahkan citra moral yang baik di mata masyarakat. Namun ternyata, status
sosial, pendidikan, atau profesi yang tinggi bisa menyebabkan mereka ini merasa
memiliki kepuasan tersendiri ketika mampu memengaruhi hubungan sosial orang
lain tanpa harus terlihat sebagai penyebab utamanya.
Dan mungkin inilah alasan mengapa orang-orang yang memilih diam, menjaga
jarak, atau tidak terlalu aktif dalam lingkungan sosial sering kali lebih mudah
dijadikan target. Karena mereka dianggap tidak memiliki kekuatan untuk melawan
opini yang sudah lebih dulu dibentuk oleh lingkungan sekitar. Akhirnya, orang
yang paling sedikit menimbulkan masalah justru menjadi pihak yang paling mudah
dicurigai, dibicarakan, bahkan disalahkan.
Sekarang aku bedah lagi tentang apa yang terjadi seterusnya.
1. Kenapa orang yang cenderung selalu berdiam
diri atau tenang justru sering diganggu?
Banyak orang akan mengira bahwa orang
pendiam itu adalah sombong, tidak ikut nongkrong, ngerumpi atau sekedar
duduk-duduk di setapak jalan bersama tetangga komplek adalah mereka yang merasa
dirinya bertingkah seolah harus terlihat lebih baik. Lalu jarang bicara itu
suka menyimpan sesuatu, apalagi lebih sering memilih di rumah itu adalah anti
sosial.
Belum tentu.
Masalahnya, manusia cenderung tidak nyaman
terhadap sesuatu yang tidak mereka pahami. Orang yang terlalu terbuka mudah
dibaca. Tapi orang yang diam membuat orang lain mengisi “kekosongan informasi”
dengan asumsi mereka sendiri.
Akhirnya muncul beberapa contoh pemikiran yang mengarah seperti ini ;
“Dia kenapa sih?”
“Kayaknya dia gak suka sama kita.”
“Dia pasti ngomongin kita diam-diam di belakang.”
“Aneh banget orangnya.”
Padahal si pendiam mungkin cuma capek bersosialisasi, memang nyaman
sendiri, introvert, atau menjaga ketenangan hidupnya dari drama sosial di luar
rumah karena pernah mengalami trauma terhadap lingkungan sendiri
Parahnya, semakin seseorang tidak ikut
drama, kadang justru makin dijadikan bahan drama.
2. Kenapa masyarakat sering curiga pada orang
yang tidak ikut berbaur?
Di banyak lingkungan “normal” itu sering
diukur dari seberapa sering orang ini keluar rumah, seberapa sering ia
basa-basi bersama tetangga, seberapa aktif ikut ngumpul, dan seberapa mudah ia
bisa ikut arus ketegangan sosial yang terjadi dalam masyarakat.
Jadi ketika ada orang yang memilih diam, menjaga
jarak, tidak suka ikut rumpi, hidupnya tertutup, mereka dianggap “mengancam
ritme sosial”.
Karena kelompok sosial sering punya
kebutuhan: “Semua orang harus terlihat sama.” Justru orang yang berbeda membuat
sebagian orang merasa tidak nyaman, tidak bisa mengontrol narasi drama baru atau
takut tidak diterima juga oleh sekitarnya yang lain.
Akhirnya lahirlah rumor untuk menjelaskan
orang yang tidak ikut berbaur itu. Dan rumor biasanya memang muncul karena
fakta, tapi fakta yang bisa di daur ulang setiap waktu, dimana saat kekosongan
informasi orang butuh topik bicara, ada kebosanan jika kehidupan mengalir
begitu saja, pemicu paling kecil tak bisa disadari nurani adalah rasa iri hati
terdalam, sehingga rumor bisa berubah menjadi kebutuhan hiburan sosial bersama.
3. Kenapa ada kelompok yang tiap hari
membahas orang yang sama?
Ini menarik dan agak gelap. Kadang sebuah
kelompok itu sendiri tidak punya “ikatan sehat” didalamnya, entah mereka sadar
ataupun berpura-pura tidak perduli akan ketidaksehatan itu. Jadi mereka
membutuhkan hiburan berupa individu yang dijadikan pusat drama. Orang itu
adalah orang sama yang sering dijadikan bahan gosip, target pembicaraan dan
pastinya dianggap sebagai musuh bersama.
Oleh karena subjek pembahasan adalah
”orang itu”, maka mereka akan selalu merasa lebih kompak satu suara, lebih
dekat satu sama lain, lebih benar tentunya dan selalu terlihat lebih unggul.
Ada penjelasan secara psikologis membicarakan orang lain bisa memberi sensasi superioritas, validasi, bahkan pelarian dari masalah hidup mereka sendiri. Tentunya itu adalah hiburan.
Itulah sebabnya ada kelompok yang tiap hari ngomongin orang yang sama, padahal tidak punya masalah pribadi dengan orang itu, bahkan untuk basa-basi juga hampir tidak pernah sama sekali.
Sebenarnya mereka bukan membenci orang
tersebut sepenuhnya. Mereka lebih menikmati “perasaan menjadi satu kelompok” dan
target gosip tentang orang yang sama itu, hanyalah alat perekat sosial mereka.
4. Ada sebuah skema konflik sosial tidak
langsung. Apa itu?
Aku buat sebuah contoh klasik. Di antara
empat pihak, A-B-C dan D punya konflik ketegangan sampai berujung pertikaian.
Urutan para pihak, gambaran-nya seperti ini :
- A dan B berteman.
- B adalah orang yang selalu terlihat baik dengan siapapun.
- C adalah teman A tapi tidak sebaik dan sedekat B,
- D adalah orang yang tidak dekat dan baik dengan siapapun.
Ceritanya begini :
A menceritakan tentang sesuatu yang dia
sangat tidak suka mengenai D kepada B dan C. Lalu C yang memang jarang bersama A
dan B menjadi orang yang mudah tersulut sepihak karena baru memperhatikan si D
yang dibicarakan ini. C menjadi sangat tidak suka pada si D sewaktu mereka
bertemu atau berpapasan dimana saja. Di sisi lain, B kadang-kadang mengunjungi si
D hanya untuk menyapa.
Kemudian, karena gesture dan tingkah C
sudah jelas terlihat tidak suka pada D, disini mulai muncul ketegangan di
antara keduanya. D lalu menanyakan hal itu kepada si B. Yang terjadi adalah, B
tau mengapa sampai C bertingkah seperti itu kepada D. Semua itu karena
pembicaraan dari si A.
Tapi B karena tergolong orang sangat baik,
maka dia pun hanya bilang begini pada D ; ”Jangan terlalu ambil di hati, si C
itu jarang bergaul jadi suka marah-marah tidak jelas” Akhirnya, si D jadi tidak
suka juga pada C. Otomatis kedua orang ini bermasalah. Muncullah adegan-adegan
kecil dimana C berucap tidak baik, itu terdengar ke D, begitupun sebaliknya terus
menerus. Keadaan itu berulang kali terbawa angin kemana-mana akhirnya muncul
kegaduhan, antara C dan D lalu harus pisah jarak begitu jauh.
Beralih kembali ke A dan B yang melihat
setiap potongan adegan itu selalu. Mereka berdua ini akhirnya duduk saling
bicara tentang hal itu. A memulai bicara lagi tentang konflik C dan D yang
menurutnya memang sama-sama bermasalah, sementara si B yang terkenal sangat
baik, dia bilang begini ”Jangan dicampuri, biarin aja. Mungkin si D itu memang
punya masalah, lalu si C itu orangnya punya sifat yang memang kurang bagus,
jadi kita bisa apa”. Akhirnya si A dan B lebih sering diam hanya memperhatikan.
Sekarang mari ulas lagi apa yang terjadi :
A menyampaikan sesuatu ke B dan C tentang
D : Ingat bahwa pada faktanya setiap cerita selalu dilebih-lebihkan, dipotong,
atau dibelokkan untuk menarik peminat.
C yang awalnya bisa netral jadi mulai
tidak suka D. Lalu D merasa dijauhi. B cerita ke D tentang perilaku C. A
ternyata dekat dengan B bersekutu sampai akhir. Di sini mulai muncul “rantai
emosi”.
Yang menarik adalah tidak ada konflik
langsung yang jujur, coba lihat kembali alurnya. Semua berjalan lewat asumsi, cerita
belakang, pihak ketiga, dan persepsi. Akhirnya C dan D saling bermasalah, A dan
B malah jadi penonton yang menikmati konflik itu.
Kok bisa sih? Eh iya bisa juga, atau
kenapa ya?
Karena sebagian orang menikmati posisi
aman di balik layar, rasa punya pengaruh, kemampuan untuk mengendalikan
hubungan orang lain. Mereka merasa "Aku bisa bikin si C benci si D" atau "Aku bisa
bikin mereka bertengkar tanpa aku sendiri terlihat."
Di tahap ini, konflik bukan lagi soal siapa benar atau salah. Malah ada permainan pengaruh, citra diri, posisi sosial, dan cara manusia melindungi ego mereka sendiri. Orang seperti “si pencerita” dalam skema di atas sering terlihat paling tenang, netral, atau tidak ikut ribut secara langsung. Padahal justru dia bisa menjadi pemantik emosional terbesar, yang sering sulit disadari lingkungan. Bisa dikatakan sebagai pengadu domba, tapi bukti yang mengarah ke orang seperti itu, hampir tidak ada sama sekali.
5. Kenapa setelah konflik terjadi, si
pencerita malah bersikap seperti penonton?
Dari skema cerita sebelumnya, A dan B
akhirnya menjadi para penonton, padahal sumber masalah adalah karena mereka
menciptakan cerita dan memberi persepsi berlanjut. Tapi mereka bersikap “Aku
tidak melakukan apa-apa secara langsung.” Padahal jelas mereka yang
menyampaikan opini, membentuk persepsi, menanam rasa tidak suka, dan menggeser
hubungan antar orang.
Tapi karena semuanya dilakukan lewat cerita,
nada bicara, framing halus. Mereka itu bisa tetap terlihat “bersih”. Ini salah
satu bentuk manipulasi sosial pasif. Terlihat sangat halus bukan menyerang
langsung, tapi mengarahkan emosi orang lain.
6. Kenapa mereka bisa terlihat santai setelah
bikin konflik?
Banyak konflik sosial modern terjadi tanpa
rasa tanggung jawab langsung. Kalau seseorang tidak memukul, tidak memaki
terang-terangan, tidak terlibat di depan para pihak bermasalah, mereka akan
merasa “Aku tidak salah.”
Padahal kerusakan sosial sering lahir dari
bisikan, insinuasi, sindiran, pembentukan opini, dan permainan persepsi. Seperti
yang sudah dijelaskan sebelumnya. Paling berbahaya pelaku seperti ini sering
dianggap bijak atau pintar bicara, apalagi kalau mereka jarang terlihat
emosional didukung oleh pengaruh kedudukan sosial dan citra diri pada
profesionalitas sehari-hari.
“Loh kok bisa orang hebat begitu?” Ini
poin yang dalam. Kecerdasan, status,
pendidikan, atau kemampuan, tidak otomatis membuat seseorang matang secara
emosional atau bahkan terpenuhi oleh itu tapi menginginkan hal yang lebih untuk meningkatkan citra dirinya.
Ada orang pintar bicara, sukses, disegani,
terlihat elegan, tapi tetap menikmati drama sosial, kontrol emosional, pengaruh
terhadap hubungan orang lain. Kenapa? Karena kebutuhan ego manusia tidak hilang
hanya karena seseorang hebat. Kadang malah makin besar.
Ada orang yang juga merasa terpuaskan ketika perkataannya
dipercaya, emosinya memengaruhi kelompok, orang lain berubah karena narasinya,
atau konflik terjadi lalu ia jadi “penonton aman”. Itu memberi sensasi seperti memiliki kuasa sosial.
Paling aneh dari situasi seperti ini,
seringkali mereka yang paling banyak bicara tentang moral, justru paling pandai
melukai secara diam-diam. Karena mereka tahu batas sosial, cara bermain aman, membuat
sindiran tanpa terlihat jahat dan bisa membuat orang lain tampak bersalah.
Ketika konflik membesar, mereka bisa
berkata; kan cuma ngomong, cuma cerita, cuma bercanda. Padahal efeknya sudah
masuk ke hubungan banyak orang. Sadar ataupun tidak sadar, korban mereka adalah
orang-orang bermasalah itu.
Kenapa korban akhirnya memilih diam? Karena
mereka akhirnya baru sadar melawan drama sosial seperti ini sering sia-sia. Sebab
yang dilawan bukan satu orang,
melainkan persepsi kelompok, opini yang sudah menyebar, dan narasi yang
dibangun pelan-pelan.
Akhirnya orang itu memilih menarik diri,
diam, menghindar, atau terlihat dingin. Lalu
fatalnya, diamnya orang itu malah dijadikan bahan baru: “Tuh kan, dia begitu.”
Hal ini jadi membenarkan cerita sana-sini tentang orang tersebut yang sudah ada
sejak awal.
7. Kenapa orang tetap menyebarkan omongan
yang mereka sendiri sudah tahu tentang itu belum tentu benar?
Karena dalam banyak situasi sosial, kebenaran
bukan prioritas utama. Lebih penting bagi sebagian orang adalah bisa diterima dalam
kelompok, dianggap punya informasi, terlihat dekat dengan orang tertentu, atau
menjaga posisi sosial.
Mereka selalu sadar kayaknya ini belum
tentu benar. Tapi tetap dilanjutkan karena takut dikucilkan, ingin dianggap sama
pentingnya, haus menikmati drama atau merasa lebih hidup ketika ada konflik.
Jadi gosip sering bukan juga soal fakta. Tapi
soal kekuasaan sosial kecil-kecilan.
8. Kenapa orang tenang sering jadi target
paling empuk?
Karena orang tenang biasanya tidak
melawan, tidak banyak klarifikasi, tidak cari ribut, tidak suka membela diri di
depan umum atau bahkan terkadang orang ini tidak punya daya untuk melakukan
itu.
Tentu, para pelaku gosip tahu itu.
Target yang diam dianggap aman, mudah
dibentuk narasinya, dan kecil kemungkinan menyerang balik. Maka lahirlah
situasi orang yang paling tidak mengganggu siapa-siapa justru paling sering
diganggu.
Tulisan ini bukan dibuat untuk menunjuk siapa yang paling
benar atau paling salah. Aku hanya mencoba menggambarkan bagaimana pola-pola
sosial seperti ini benar-benar ada dan terus berulang di sekitar kita, bahkan
dalam lingkungan yang terlihat paling baik sekalipun.
Sebagai seseorang yang pernah berada di
posisi salah satu pihak dalam konflik semacam ini, aku tahu bagaimana rasanya
perlahan dijauhkan oleh opini, dipandang berbeda karena cerita yang dibentuk
orang lain, lalu melihat bagaimana sebagian orang dapat tetap terlihat tenang
setelah menciptakan keretakan di antara hubungan sosial orang lain. Hal seperti
itu bukan sekadar meninggalkan konflik sesaat, tetapi juga meninggalkan cara
pandang baru terhadap manusia dan lingkungan sekitar.
Pola ini tidak berhenti pada satu
kejadian saja. Perilaku seperti ini sudah menjadi bagian dari budaya sosial
yang diwariskan turun-temurun. Ia hidup dalam kebiasaan bergosip, memberi sindiran
kecil, pembentukan opini, dan cara orang menikmati drama sosial bahkan
masyarakat bisa menentukan siapa yang layak diterima dan siapa yang pantas
dijauhi.
Bagian paling menyedihkan dari semuanya adalah: banyak orang melakukannya
tanpa merasa sedang berbuat salah. Mereka menganggap itu hanya obrolan biasa, candaan,
atau komentar kecil. Padahal tanpa sadar hal-hal seperti itulah yang perlahan
menghancurkan ketenangan hidup seseorang, merusak hubungan antar manusia, dan
menciptakan luka sosial yang sulit dijelaskan.
Sampai hari ini, aku masih terus melihat pola yang sama berulang di
berbagai tempat dan lingkungan. Seolah-olah akar dari kebiasaan ini sudah tertanam
dalam kehidupan sosial masyarakat. Sulit dicabut dan tidak bisa dihentikan,
karena sering kali ia dibungkus oleh keramahan, kedekatan, bahkan citra moral
yang terlihat baik di permukaan.
Mereka yang sengaja melakukan hal-hal seperti skema pertikaian pada konflik A-B-C dan D lebih cepat berdalih dengan alasan bahwa cara mereka adalah kebenaran untuk membuat orang lain sadar diri atau merasa pertikaian itu terjadi karena kebodohan sifat orang lain, dan paling menyeramkan dari alasan melakukan itu adalah mereka bertindak dengan ucapan-ucapan religius dan berhak mengatur keadaan hidup orang lain, sehingga ketika masalah itu berdampak besar, pihak yang jadi sorotan adalah mereka yang sudah dipandang bermasalah sejak awal.
Mungkin karena itulah, sebagian orang akhirnya memilih diam. Bukan lemah, melainkan karena terlalu lelah hidup di tengah kehidupan munafik yang sering menjadikan ketenangan orang lain sebagai bahan hiburan atau drama sosial.
Komentar
Posting Komentar